Penulis : June
Senin 26 September 2016
Probolinggo – Selang beberapa hari pasca ditangkapnya pimpinan padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi, di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, ribuan santri yang kini masih bermukim di tenda penampungan padepokan, semakin hari kehidupannya semakin semeraut.
Sedihnya, ribuan santri harus hidup di tenda bergerombol bersama - sama santri lainnya dari berbagai daerah, meski harus menahan rasa dingin di pada malam hari dan panasnya terik matahari di siang hari.
Selain itu, para santri mengaku kehabisan bekal dan uang selama berada di padepokan, ditambah maha gurunya taat pribadi di tangkap polisi karena keterlibatan pembunuhan kedua santrinya.
Tak hanya itu, pihak yayasan padepokan Dimas Kanjeng, yang selama ini mengurus makan para santri menghilang, pasca penggerebekan pada Kamis (22/9) kemarin, tanpa memeberi kabar yang jelas.
Menurut Risal, salah satu santri asal Lampung, memilih bertahan hidup di tenda padepokan, sambil menunggu kiriman uang dari kerabatnya, untuk pulang kampung. Pasalnya, sudah 3 bulan ini berada di padepokan tanpa ada kejelasan nasib dari pihak padepokan.
"Saya sudah tiga bulan nyantri di padepokan bersama 7 orang teman saya yang juga berasal dari Lampung, sebetulnya ingin pulang, tapi masih menunggu kiriminan uang dari kerabat saya,"jelas Risal, saat ditemui di tenda padepokan Senin (26/9/2016).
Sementara pihak pemerintah melalui Kecamatan Gading, terus memantau dan mendata para santri padepokan dan terus memberi arahan ke santri untuk segera pulang, dan jangan bertahan di padepokan dengan nasib yang tidak jelas.
"Saya tanyakan kenapa tidak pulang, meraka mengaku masih ingin nyantri, padahal kita tiadak tahu mereka makan dari mana sehari-harinya. Ada juga yang menku menunggu penciran dari padepokan,"kata Selamet Hariyanto, Camat Gading, saat di lokasi padepokan.
Ribuan santri hanya bisa pasrah tentang kelanjutan nasib dirinya dan kejelasan kedepannya, dan berharap pihak kepolisian memberikan langkah yang terbaik bagi santri korban Taat Pribadi.(fir)
Laporan : June
Editor : Dicko